Wednesday, December 31, 2008

Tahun 2009....

Tahun baru 2009 sudah datang...
Selamat tahun baru...

Membuka kembali perjalanan 2008. Yah,banyak hal yg sudah terjadi. Senang, sedih, bahagia, dukacita, kebanggaan, penyesalan, harapan, cita2, kesuksesan, kegagalan, masalah, tawa, air mata, kejujuran, kebohongan, kesetiaan, kelalaian, cinta, benci, kesalahan, maaf, memulai, mengakhiri, kelahiran, kematian, sakit, sehat.,. Semuanya mewarnai perjalanan hidupku di 2008.

Bersyukur untuk segala hal yg sudah terjadi. Berharap 2009 akan menjadi awal yg baru bagi masa depanku. Semoga Tuhan mengaruniakan kebahagiaan, kedamaian, kecukupan, & segala yg dilakukan mendapatkan ridhoNya. Semoga Tuhan menjauhkan dari dosa, rasa takut, kuatir, curiga, ketamakan, kesombongan, kebencian. Semoga selalu lebih baik dr waktu ke waktu....

Amiiin...

Tuesday, December 23, 2008

Menikmati Kebersamaan.......

Beban pekerjaan yang berat membuat kami satu ruangan di seksi penyelenggaraan sering berencana: Nanti setelah diklat ini selesai kita refreshing ke mana yuk.. Ternyata setelah tiba waktu itu datang, sudah ada kerjaan lain yang datang dan kita pun batal refreshing sekedar meletakkan pikiran sesaat. Begitu berulang-ulang sampai akhir tahun datang dan kegiatan diklat benar-benar selesai.... Kita pun buat rencana untuk makan siang bersama. Hari pertama kita makan siang di RM Padang Sederhana. Lalu dalam perjalanan pulang seorang teman mengusulkan: besok taktraktir yuk ke pecel Yu Sri. Kompak kita menjawab: boleh.... Hari kedua pun kita ke Warung Pecel Yu Sri. Eh, ada teman lagi yang punya rencana untuk mentraktir teman-teman 1 ruangan hari Rabunya, akhirnya disepakati hari Rabu kita makan bareng lagi. Lalu dibuatlah kesepakatan dalam 1 minggu ini kita akan makan siang bersama 1 ruangan, dengan masing-masing kita mentraktir makan. Hihi...lucu juga. Dan dalam seminggu ini kita makan bersama. Rasanya senang dan penuh kekeluargaan. Bercanda2 dan sejenak melupakan beban pekerjaan yang sedikit-sedikit masih tersisa.......

Mari bersenang-senang dulu....


Wednesday, December 17, 2008

Mengejar Prameks...

Aku punya cerita menarik (bagiku) dengan judul "Mengejar Prameks". Kemarin Rabu, aku berniat pulang menjenguk bapak yang semalemnya telpon kalau tensinya mendadak tinggi. Karena hari kerja, aku berniat naik Prameks supaya tidak terlalu lelah karna besok pagi harus berangkat kerja lagi. Dalam benakku Prameks jurusan Kutoarjo berangkat pukul 16.00. Aku keluar kantor pukul 15.30, lalu segera melesat ke stasiun Tugu. Sampai depan stasiun kena palang pintu sehingga aku berhenti. Hmm..cukup lama. Ternyata kereta yang lewat adalah Prameks yang akan kutumpangi. Segera setelah palang pintu dibuka aku segera memarkir motor, membayar parkir menginap, dan berlari menuju stasiun. Loket ternyata antri. AKu segera mengambil antrian dengan ngos2an dan masih berasa keburu-buru. Duh....kok lama si... Di dalam terdengar peringatan: 'Kereta Prameks jurusan Kutoarjo akan segera berangkat, penumpang diharap segera naik ke kereta." Waduh....piye ki, antrianku masih di belakang. Dengan meminta maaf aku segera menuju loket, memotong antrian dan meminta "Kutoarjo mbak". Petugas loket segera memberi tiket dengan berteriak: "Kereta dah mau berangkat di jalur 4". Sempat melirik tulisan, KUTOARJO 15.50 *ternyata bukan jam 16.00*. Aku segera berlari masuk, berteriak di peron, mengacungkan tiket sambil tetap berlari: "Kutoarjo Pak". Masuk dan kulihat Prameks sudah berjalan. Sempat juga aku mengejar sambil mengacung-acungkan tiket aku berteriak: Tunggu!!!! *hal bodoh yang kulakukan*. Akhirnya menyerah. Yah, ketinggalan Prameks...

Sedikit kecewa aku berjalan keluar. Petugas peron bertanya: "Gak nyandak mb?". Aku dengan tampang sedih menjawab: "Iya Pak... *hiks*". Lalu beliau dengan sedikit menyesal bilang: "Wah, trus gimana mb?? Itu tiketnya dikembalikan aja nggak papa, bilang kretanya sudah berangkat." Aku cuma sanggup jawab: "Iya Pak, makasih.". Kuikuti saran petugas peron, kukembalikan tiket ke loket dan aku dapat ganti uang seharga tiket. Lalu segera menuju parkir motor dan membatalkan parkir menginap. Petugas parkir juga bertanya: "Trus gimana mbak??". Kujawab "Naik motor saja Pak.". Yah, akhirnya aku pulang naik motor. Tanpa slayer, tanpa kaos tangan, tanpe jaket tebal, dengan rok panjang. Wuih....baru sekali ini. Kupacu sepeda motorku, ketergesaan yang kubawa sedari kantor hingga di stasiun masih terus berimbas. Walhasil laju sepeda motorku pun sangat cepat. Sampai rumah pukul 17.09. Waduh. Kalo tadi kereta berangkat pukul 15.50, kira-kira aku berangkat dari stasiun pukul 16.00. Weits, 70 menit sampai rumah??!! Waduh...

















Kecepatan 'Ngatini' saat aku masih bisa mengambil screensut spedometer....



'Ngatini' istirahat di lampu merah...

Saturday, December 6, 2008

Selamat berjuang,sahabat...

Hari ini,7 Desember 2008,serentak diselenggarakan tes cpnsd th.2008. Banyak teman,sahabat,saudara yg mencoba beradu nasib di sini. Beberapa teman sempat brtanya byk hal sebelum ini. Menanyakan kiat2 jg. Duh,aku dulu hanya yakin&percaya,belajar dan mengerjakan soal. Tidak lupa minta doa restu orang tua.

Jadi inget bbrpa thn lalu saat aku jg mencoba beradu nasib di dunia pns. Hanya kuasa Tuhan yg bekerja saat itu,karna secara logika tidak mungkin aku bisa ikut seleksi cpns. Jangankan ikut seleksi,mdaftar pun secara normal aku blm bisa. Bayangkan saja,1 minggu stlh yudisium adl batas terakhir pndaftaran cpns. Hanya dlm waktu 1 minggu aku mengurus ijazah dan transkrip nilai spy bisa segera keluar untuk kupakai mendaftar. Hari sabtu batas akhir pendaftaran,hari jumat pkl.11 ijazahku keluar,masih harus kulegalisir ke fakultas. Berhubung jumat hari pendek jd legalisir baru bisa jadi hr sabtu pkl.9. Belum transkrip nilainya. Hr jumat blm jadi,dijanjikan hr sabtu pkl.9. Hari sabtunya stlh mengambil legalisir ijazah,aku ke rektorat utk mengambil transkrip,tp trnyata transkrip atas namaku belum tercetak. Dengan sedikit memaksa aku minta spy transkrip atas namaku bs didahulukan krn akan kupakai mdaftar cpns yg batas akhirnya adl hr ini pkl.12.30. Akhirnya disetujui dan diminta mengambil pkl.11 siang nti. Sblm pkl.11 aku sdh menuju rektorat,dan ternyata transkrip nilaiku blm jadi. Haduh,sedikit panik saat itu. Trnyta aku melakukan kesalahan saat menginput judul skripsi,walhasil transkripku tertunda. Namun stlh kubetulkan,petugas segera mencetak dan memintakan tandatangan khusus untuk transkripku. Pukul.12.00 aku mendapatkan transkrip nilai berikut fc legalisir dan disertai doa dari petugas di rektorat yg sedari tadi ikut sibuk.

Berangkatlah aku ke PPPG Matematika dibawah gerimis hujan,diantar adik terbaikku Sigma. Sampai kantor,petugas pendaftaran bilang: 'wah,sudah tutup mb,sudah lebih jam stg1'. Hoho,sdh hampir menyerah pulang. Tp kemudian dikasih kesempatan. Puji Tuhan..

Yah,akhrnya aku bisa mendaftar,ikut tes meskipun sdg sakit mata,dan puji Tuhan diterima..

Begitulah,kuasa Tuhan bekerja,disertai usaha kita. Berjuang sampai titik akhir.. Jadi inget yg hajepe blg saat brgkt nonton bbrpa wkt lalu: 'Biasanya kalo diawali dgn perjuangan,hasil akhirnya indah Tik.' :-)

Wednesday, November 19, 2008

Satu Bintang di Langit Kelam


Angkasa tanpa pesan merengkuh semakin dalam
Berselimut debu waktu kumenanti cemas

Kau datang dengan sederhana
Satu bintang di langit kelam
Sinarmu rimba pesona dan kutahu tlah tersesat

Kukejar kau takkan bertepi
Menggapaimu takkan bersambut
Sendiri membendung rasa ini
Sementara kau membeku

Khayalku terbuai jauh
Pelita kecilmu mengalir pelan dan aku terbenam
Redup kilaumu tak mengarah
Jadilah diriku selatan

Namun tak kau sadari hingga kini dan nanti

- RSD -


Berdamai dengan kenyataan..

Soe Hok Gie adalah tokoh muda penulis buku "Catatan Seorang Demonstran". Ia meninggal dunia dalam usia 27th d puncak gunung Semeru. Riwayat hidupnya pernah dibukukan & difilmkan. Dalam puisinya berjudul "Mandalawangi Pangrango",ia menulis: "Hidup adl soal keberanian,menghadapi tanda tanya tanpa kita mengerti,tanpa kita bisa menawar,terimalah & hadapilah."

Ya,dalam hidup ini kerap kita tidak dapat memilih. Seumpama makanan,seolah semuanya sdh disediakan dr sononya. Kita hanya bisa 'makan' tanpa protes. Kita,misalnya,tdk pernah memilih utk terbaring sakit,melahirkan anak dgn kebutuhan khusus,menjalani kehidupan yg tidak kita inginkan. Kita hanya bisa menerimanya.

Pergumulan itu jg dialami Yeremia. Ia tdk pernah memilih mjd nabi. Bahkan sebetulnya ia ingin menolak jabatan itu. Namun kenyataannya ia tak dapat mengelak. Keadaan itu membuatnya merasa tertekan dan terus didera peperangan batin. Sampai2 ia berkata "Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan! Biarlah jangan diberkati hari ketika ibuku melahirkan aku!"

Ketika menghadapi situasi demikian,tak ada cara lain yang lebih tepat selain menerimanya dgn rela. Kalaupun kita terus memberontak,tidak akan ada gunanya,hanya melelahkan bahkan menambah masalah baru. Ketika kita tak dapat mengubah keadaan di luar,yg bisa kita lakukan adalah mengubah sikap & pandangan kita terhadap keadaan itu. Kuncinya ada pada keyakinan bahwa hidup kita selalu dalam kendali kasih & kuasa Tuhan. Amin.

(Diambil dr Renungan Harian Selasa,18 November 2008)
*diketik dgn teknik 1jari*

Sunday, November 16, 2008

...dari pohon besar, ngatini, hingga ombak dan buih...

Kemarin Minggu, aku berniat jalan2 menghabiskan hari. Setelah sedikit berpikir akhirnya kuputuskan berjalan ke selatan.

Sebelumnya mampir ke supermarket sekedar beli buah untuk bekal. Dapetlah pear dan jeruk santang sebagai bekal.

Berangkatlah segera dengan persiapan matang. Sehelai mantel jubah, pelindung jika hujan turun, dan bisa juga kugunakan sebagai tikar alasku duduk sambil menikmati ombak yang menderu dan berpasang muda mudi yang menikmati libur di hari minggu.


Di tengah perjalanan ada sebuah pohon besar yang tumbang, tercerabut sampai ke akarnya. Pohon ini cukup besar, bahkan sangat besar. Tapi kalau Tuhan sudah berkehendak, apapun bisa terjadi. Dengan tiupan angin puting beliung, pohon dengan akar yang kuat pun bisa dengan mudah tercabut seperti rumput. Sedikit berefleksi pada diri, ya, Tuhan yang menentukan semua. Apapun jika Tuhan berkehendak, bisa terjadi. Yang tampaknya tertanam dengan pengikat akar yang kuat pun bisa dengan mudah tercabut hanya dengan tiupan angin, begitu pula dengan semua yang ada pada manusia. Apa yang ada padaku, bukan milikku, tapi Tuhanlah yang empunya. Jika Dia berkehendak maka Dia berhak mengambil ataupun menambahkan apa yang ada padaku. Seperti juga saat aku kehilangan Supri, motor yang menemaniku selama hampir 15 bulan. Saat itu aku bisa menerima & ikhlas bahkan menganggap kehilangan itu adalah 'berkat tak terduga', karna pasti ada berkat yang lebih besar di balik kehilangan itu. Benar saja tanpa terpuruk lama2, aku mencari pengganti Supri dan kutemukan Ngatini, motor Vega keluaran Yamaha. Dia yang akhirnya menemaniku ke mana pun aku pergi. Juga kemarin saat aku ingin menghabiskan hari. Ngatini sudah hampir 1 tahun ini menjadi sahabatku. Kurawat dengan rutin & tertib, karnanya Ngatini jarang sakit. Hanya saja kemarin dia mengalami sedikit luka pada ban belakang. Jadilah kudorong dia, untung tidak jauh, dan terjadilah adegan Ngatini Obong. Sambil menunggu proses penyembuhan aku nikmati sedikit bekal yang kubawa. Ah, lumayan juga... Kulanjutkan perjalanan. Pelan, tanpa tarikan gas yang kuat, tanpa dendang dari bibir, tanpa ketergesaan. Pelan & tenang. Sedikit tersadar dari 'ketenangan' saat merasa ada tetesan air di tangan. Woo, hujan rupanya, dan kulihat langit, sepertinya hendak deras. Kuputuskan memanfaatkan mantel jubah yang memang sudah kupersiapkan. Dan perjalanan dilanjutkan dengan nyaman meski dalam hujan. Indah juga ya hujan itu... Sepanjang perjalanan kunikmati dinginnya dan ketukan-ketukan air yang menimpa punggung tanganku.
Sampai di tengah perjalanan hujan berhenti, tapi aku enggan melepas mantelku, jadi aku tetap memakai mantel meski langit terang benderang. Sampailah aku di tempat di mana aku bisa memandang langit sampai pada kakinya, melihat angin mempermainkan air menjadi terombang ambing membentuk ombak dan buih, lalu kembali, hilang, dan datang lagi. Aku berdiri di tepian pantai, menerima ombak yang datang, lalu kembali lagi. Lalu datang lagi, kadang lebih besar kadang hanya buihnya yang sampai padaku. Begitu berulang-ulang tidak pernah berhenti, sampai aku kembali ke tempat aku tidak merasakan lagi ombak dan buih itu. Refleksi lagi pada diri. Hidup mungkin seperti saat aku berdiri di tepi pantai dan masalah seperti halnya ombak yang datang dan pergi, tak pernah berhenti. Tapi saat kuhadapi,  dia pun akan bisa terselesaikan dan kembali ke lautan lepas sana. Lalu akan datang lagi masalah yang lain, mugnkin lebih besar, tapi mungkin juga lebih ringan. Tapi begitu juga, saat kuhadapi, dia akan segera hilang dengan sendirinya. Begitu seterusnya dalam hidup, tidak akan pernah berhenti masalah itu datang dan pergi, sampai saat kita kembali pada tempat di mana kita tidak menemui masalah kehidupan lagi, yaitu kematian.

Di tepi pantai yang tidak terkena ombak aku duduk beralaskan mantel jubah, ditemani seplastik buah. Memandang ke laut & langit, ya Tuhan, Engkau begitu luar biasa, tak terbatas kuasaMu. Aku mulai melupakan semua masalah2ku dan mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Bibirku mulai menyanyikan pujian. Meskipun sendiri aku tidak peduli, aku tetap bernyanyi, beberapa lagu kunyanyikan dari lagu pujian sampai lagu penguatan saat aku  sedang dalam pergumulan. Dan...ahh...tak kuduga aku merasakan kelegaan. Waktu sudah beranjak petang dan aku memutuskan pulang. Sudah kularung semua beban, berharap tidak kupikul lagi di hari nanti. Motorku melaju dengan pelan, tapi bibirku penuh dengan nyanyian. Berbeda saat aku berangkat tadi. Ya, aku ingin pulang dengan damai dan bahagia.

Ya...perjalanan sehari kemarin membawa banyak refleksi pada diri. Dari pohon besar yang takluk oleh angin, kehilangan Supri yang menghasilkan Ngatini, juga deru dan ombak yang membawa banyak refleksi pada diri. Kesemuanya menuju pada satu titik: kuasa Tuhan. Tidak ada yang bisa mengalahkan kuasa Tuhan. Jika Tuhan berkehendak maka segalanya bisa terjadi. Manusia seperti sebutir debu yang dikaruniai keikhlasan untuk menerima kehendak Tuhan, namun di mata Tuhan kita sangat berharga dan tidak pernah Dia lalai menjaga kita meskipun kita hanya sebutir debu....