Showing posts with label perjalanan. Show all posts
Showing posts with label perjalanan. Show all posts

Sunday, October 18, 2009

Menjelang..

“Sudah siap Tt?” tanya ibu sambil merapihkan riasanku. Tak taukah ibu, jantungku berdebar tak menentu?? Dan pertanyaan ibu semakin memacu pompa jantungku. Huff..

“Belum. Tunggulah sebentar lagi.” jawabku sambil menghela nafas menata hatiku.
“Apakah semua sudah siap?” tanyaku. Hanya untuk mengulur waktu tentunya.

“Sudah. Semua sudah siap. Tinggal menunggumu.”

Ahh…aku menatap seseorang di depanku yang juga menatapku lekat2. Mulai bergumam padanya. Sungguh aku belum siap menghadapi ini semua. Aku belum siap menjalani ini. Berulang kali aku bilang: aku tidak mau! Berulang kali aku memohon: jangan dulu! Tapi kenapa tak ada toleransi??

Aku masih ingin bermain. Aku masih ingin berkarya. Belum banyak yang kuhasilkan, belum ada yang bisa kubanggakan. Nanti, setelah aku menghasilkan sesuatu, aku baru bersedia memasuki hidup baru itu. Tapi nanti, belum sekarang, aku belum mau…

Lihatlah hidupku ke belakang. Tentu saja aku bersyukur, Tuhan. Banyak sekali berkat2 yang Kau limpahkan dan tak mampu aku menghitungnya. Keluarga, bersyukur Kau berikan padaku keluarga baik2 yang mendidikku dengan baik, dengan mengedepankan mengasihi, memaafkan, menolong, rendah hati. Keluarga yang rukun, saling menopang, saling menguatkan. Ya, Tuhan, aku bersyukur. Juga pekerjaan, teman-teman, lingkungan, dan masih banyak lagi. Tak ada nikmatMU yang kuingkari ya Allah. Sungguh hamba bersyukur.

“Gimana Tt? Sudah siap?” ibu kembali datang dan menanyakan hal yang sama.

“Belum Bu. Tunggulah sebentar lagi.”

Aku ingat ada banyak hal yang belum kuselesaikan, banyak masalah yang masih mengambang. Aku ingin, saat aku memasuki hidup baru ini, semua masalah itu telah terselesaikan. Tapi ternyata belum. Dan lagi2 aku tidak diberi toleransi untuk mengatakan: nanti dulu. Harus. Karna waktu tak mau menunggu.

Debar jantungku masih kencang. Mungkin aku hanya terlalu khawatir akan apa yang kuhadapi nanti. Semestinya itu tidak perlu. Bukankah Tuhan telah memilihkan jalan terbaik untukmu? Bukankah Tuhan selalu menyertaimu? Kamu hanya perlu menyerahkan hidupmu kepadaNYA Tt. Serahkan apa yang terjadi nanti dalam kuasaNYA. Dia mempunyai rencana indah bagi umatnya.

Tapi aku belum menghasilkan apa2!! teriakku. Hey,bukankah kamu tidak bisa menghitung berkat2 yang Tuhan limpahkan padamu? Kamu telah melakukannya bersama Dia, dan itulah hasilnya. Kamu sudah melakukan bagianmu,dan Dia telah menyelesaikannya.

Ah,kupikir perempuan di depanku ini terlalu banyak bicara. Tapi semua kata2nya benar kurasa. Perempuan dalam cermin, bayangan diriku sendiri.

Ibu kembali datang. Kali ini sepertinya dia enggan bertanya. Hanya tersenyum padaku, mengulurkan tangan kanannya, dan mengangguk. Aku pun bangun dan berkata:

“Aku siap.”

Ibu menuntunku memasuki sebuah pintu. Di sana ada sebuah tangga menuju ke surga. Entah ada berapa anak tangga, tidak seorang pun tau. Aku pun menaiki satu tingkat. Anak tangga kedua puluh enam.

.

.

dedicated for: me :)

Thursday, July 16, 2009

aku kangen kamu

aku kangen sama kamu
kangen jalan sama kamu
lewati pemandangan indah di sekeliling kita
sawah-sawah dan tak ada rumah sepanjang jalan
padahal kita cuma berdua
kenapa aku tak takut ya...

aku kangen sama kamu
kangen juga sama manjamu
kangen saat kamu merajuk kalau kuajak jalan
seolah2 kamu tak mau padahal mau
kangen saat kamu tiba-tiba ngambek di tengah perjalanan
jika sudah begini aku yang takut sayang
lha kita cuma berduaan
pada siapa aku harus mengadu...
tapi kamu tau kan kalau aku cuek
bahkan hampir tidak pedulian
kalau kamu ngambek dan gk mau nerusin jalan
ya udah, kutinggal kamu dan aku nerusin jalan...

sekarang aku kangen sama kamu sayang
setahun....mungkin lebih...
kita tak pernah jalan berdua
bukan aku tak mau
tapi sepertinya kita sudah tak bisa
tak bisa lagi jalan berdua

aku tau kondisimu
sulit untuk kita kembali seperti dulu

hmmhh...
ya sudahlah aku menyerah....

aku hanya bisa memandangmu
berdebu2 di garasi kostku..
GIO....aku kangen kamu......


*dedicated 4: GIO...Piagio P150S 1981*

Thursday, January 29, 2009

Dieng....

Minggu kemarin, aku dan temen2 *jadi* ke Dieng setelah beberapa waktu lalu sempat ngobrol2 sama mb anna untuk jalan2 ke Dieng. Dicetuskan hari Selasa dan ajak sana ajak sini, akhirnya diputuskan hari Minggu berangkat. Hari Sabtu sempat deg2 plas coz seharian hujan turun tiada henti. Sabtu sore aku ke gereja, dan sepulang dari gereja hujan turun dengan lebatnya. Duh, gk bisa pulang nih.... HPku berbunyi, sms diterima. Dari salah satu temen yang besok ikut main ke Dieng: "mb, ayo berdoa biar hujannya turun hari ini semua, besok biar terang benderang." Yupz..qt sama-sama berdoa.

Besok pagi2nya kita janjian kumpul jam 6 pagi di kantor. Sampai dijemput temenku, pintu gerbang kostku belum juga dibuka. Waduh, ibu kost ni gimana, kan semalam tt udah bilang kalo mau pergi jam 6 pagi. Akhirnya lewat pintu rumah ibu kost. Dan tara....pagi itu hari tampak cerah. 06.30 kita berangkat. Semangat on the way deh, apalagi cuaca memang cerah. Duh, puji Tuhan, doa kita dikabulkan .  Sepanjang jalan kita menikmati pemandangan. Pasar tradisional, wah ada *pete* besar2. Temenku yang hobi pete langsung ijo matanya. Pengen beli tapi males turun. Walhasil, bablas... Di sepanjang jalan foto caleg bertebaran. Wah2, mau pemilu ya Indonesia.... Hihi....

Sampailah kita di Dieng. Wow....uindahe rek... Kita sempat mengunjungi Telaga Merdada, Kawah Sileri, Sumur Jalatunda (ups, batunya dijual mbak...hehe), Telaga Warna, Candi Gatotkaca, Candi Arjuna, Kawah Sikidang, Teater, apalagi ya, banyak deh.....dan puasssss... Yang takterlupakan adalah **FOTO**. Wuah......ngabisin 620MB tu foto2 di Dieng. Gk puas2 aku memandangnya. Secara keren2...

Fiuh....tak terbayangkan senangnya... Mendung dan hujan kemarin, berganti cerah matahari hari ini......

Berhubung loading inetnya lagi lama, foto2nya menyusul ya....

Wednesday, December 17, 2008

Mengejar Prameks...

Aku punya cerita menarik (bagiku) dengan judul "Mengejar Prameks". Kemarin Rabu, aku berniat pulang menjenguk bapak yang semalemnya telpon kalau tensinya mendadak tinggi. Karena hari kerja, aku berniat naik Prameks supaya tidak terlalu lelah karna besok pagi harus berangkat kerja lagi. Dalam benakku Prameks jurusan Kutoarjo berangkat pukul 16.00. Aku keluar kantor pukul 15.30, lalu segera melesat ke stasiun Tugu. Sampai depan stasiun kena palang pintu sehingga aku berhenti. Hmm..cukup lama. Ternyata kereta yang lewat adalah Prameks yang akan kutumpangi. Segera setelah palang pintu dibuka aku segera memarkir motor, membayar parkir menginap, dan berlari menuju stasiun. Loket ternyata antri. AKu segera mengambil antrian dengan ngos2an dan masih berasa keburu-buru. Duh....kok lama si... Di dalam terdengar peringatan: 'Kereta Prameks jurusan Kutoarjo akan segera berangkat, penumpang diharap segera naik ke kereta." Waduh....piye ki, antrianku masih di belakang. Dengan meminta maaf aku segera menuju loket, memotong antrian dan meminta "Kutoarjo mbak". Petugas loket segera memberi tiket dengan berteriak: "Kereta dah mau berangkat di jalur 4". Sempat melirik tulisan, KUTOARJO 15.50 *ternyata bukan jam 16.00*. Aku segera berlari masuk, berteriak di peron, mengacungkan tiket sambil tetap berlari: "Kutoarjo Pak". Masuk dan kulihat Prameks sudah berjalan. Sempat juga aku mengejar sambil mengacung-acungkan tiket aku berteriak: Tunggu!!!! *hal bodoh yang kulakukan*. Akhirnya menyerah. Yah, ketinggalan Prameks...

Sedikit kecewa aku berjalan keluar. Petugas peron bertanya: "Gak nyandak mb?". Aku dengan tampang sedih menjawab: "Iya Pak... *hiks*". Lalu beliau dengan sedikit menyesal bilang: "Wah, trus gimana mb?? Itu tiketnya dikembalikan aja nggak papa, bilang kretanya sudah berangkat." Aku cuma sanggup jawab: "Iya Pak, makasih.". Kuikuti saran petugas peron, kukembalikan tiket ke loket dan aku dapat ganti uang seharga tiket. Lalu segera menuju parkir motor dan membatalkan parkir menginap. Petugas parkir juga bertanya: "Trus gimana mbak??". Kujawab "Naik motor saja Pak.". Yah, akhirnya aku pulang naik motor. Tanpa slayer, tanpa kaos tangan, tanpe jaket tebal, dengan rok panjang. Wuih....baru sekali ini. Kupacu sepeda motorku, ketergesaan yang kubawa sedari kantor hingga di stasiun masih terus berimbas. Walhasil laju sepeda motorku pun sangat cepat. Sampai rumah pukul 17.09. Waduh. Kalo tadi kereta berangkat pukul 15.50, kira-kira aku berangkat dari stasiun pukul 16.00. Weits, 70 menit sampai rumah??!! Waduh...

















Kecepatan 'Ngatini' saat aku masih bisa mengambil screensut spedometer....



'Ngatini' istirahat di lampu merah...

Tuesday, March 25, 2008

Kegiatan di Puncak

Minggu kemarin selama 5 hari aku dan temanku berkesempatan mengikuti kegiatan Pelatihan Penulisan naskah Audio Pembelajaran yang diselenggarakan oleh Pustekkom di Griya Astuti Jl. Raya Puncak Cisarua Bogor. Banyak pengalaman yang kami dapatkan di sana. Tentang media pembelajaran baik audio maupun video, tentang penulisan naskahnya, tentang media radio, dan masih banyak lagi termasuk salah satunya tentang u-Learning yang disampaikan dalam obrolan ringan oleh Bapak Kwarta.

Media audio dalam pembelajaran  telah terbukti meningkatkan kemampuan berbahasa perancis siswa.  Sebuah  penelitian yang dilakukan  oleh  Gibson &Popham  (San Francisco)  menunjukkan  peningkatan kemampuan berbahasa  perancis siswa setelah mereka menggunakan media audio dalam pembelajaran. Siswa kelas 9  terbukti  mengalami  peningkatan  dalam  kefasihan  berbahasa  perancis.  Siswa kelas 10 mengalami kenaikan signifikan dalam hal kefasihan dan intonasi. Siswa kelas 11 mengalami kemajuan dalam berbicara secara komprehensif dalam bahasa perancis.
Dalam hal ini pemanfataan media audio memang tepat karena media audio cocok digunakan untuk materi ajar yang erat hubungannya dengan suara misalnya bahasa maupun seni musik/suara. Beberapa hal telah disampaikan di sini. Saya hanya akan menambahkan beberapa yang saya peroleh dari pelatihan tersebut.

Pengembangan media pertama-tama harus dilakukan analisis baik kebutuhan maupun materi yang cocok diajarkan dengan media tersebut. Setelah analisis dilakukan dan diperoleh hasilnya, masuklah pada tahap designing (perancangan). Tahap selanjutnya adalah development (pengembangan) dalam hal media audio/video adalah tahap penulisan naskah. Selanjutnya adalah production. Dan dilakukan uji coba. Setelah oke, barulah dilakukan penggandaan.

Kali ini kita akan bicarakan tentang penulisan naskah.
Tahap awal yang harus dilakukan adalah menggali ide. Ini (ternyata) adalah tahap tersulit sekaligus termudah. Kenapa?! Karena ide tidak bisa ditebak kapan datangnya. Bisa tiba-tiba datang bisa sangat sulit mendapat ide, namun bisa juga ide tadi cepat-cepat hilang. Tahap ini adalah tahap yang sangat penting karena ide membawa kita untuk berkreasi. Tanpa ide kita tidak punya kreativitas. Oleh karena itu diberikan tips untuk menggali ide: hargai setiap ide yang muncul. Jangan sepelekan ide yang sepertinya sepele, itu bisa jadi menjadi hal yang luar biasa jika kretivitas kita terus bermain. Catatlah di kertas atau ketik di komputer setiap kali ide kita muncul, sehingga kita bisa mengamankan supaya tidak lekas hilang. Kemudian banyak membaca lah. Banyak membaca menjadikan wawasan kita menjadi kaya. Itu menyebabkan otak kita terus bekerja sehingga ide pun bersliweran di mana-mana. Tips selanjutnya adalah menjadi pengamat dan pendengar. Dari situ akan banyk juga ide yang bermunculan. LAlu, jangan berhenti bekerja. Bekerja dalam hal ini adalah bekerjanya otak. Selanjutnya peka terhadap gejala yang muncul di sekitar kita. Semua hal di sekitar kta dapat menjadi ide yang jika dikembangkan dengan baik bisa bermanfaat.

Setelah ide muncul maka langkah selanjutnya adalah mengubah ide menjadi pesan. Gunakan lambang-lambang maupun bahasa yang singkat dan jelas. Beberapa prinsip dalam mengubah ide menjadi pesan:
Gunakan lambing/bahasa yang tlh dimengerti pendengar, Sajikan dengan akrab dan interpersonal (=kelebihan radio dibanding tv), Susun struktur pesan scr logis, runut,     Buat format yg menarik.

Langkah selanjutnya adalah perencanaan penulisan naskah. Langkah2nya sebagai berikut:
  • Kaji GBIPM (Garis Besar Isi Program Media)
  • Tentukan format naskah apakah drama, berita, fiture sesuai materi dan tujuan
  • Buat treatment/synopsis, termasuk setting dan segmentasi . Sinopsis adalah ringkasan cerita. Sedangkan treatmen adalah  plot-plot setiap bagian.

    Contoh Sinopsis:

Kelas Edo, Bagas, Rina, dan Dewi, baru saja menerima hasil ulangan matematika. Pada jam istirahat, Edo dan Dewi saling menunjukkan nilai mereka dan membahas tentang hasil ulangan tersebut. Kemudian Dewi dan Bagas ikut bergabung. Bagas memberi tahu nilai rata-rata ulangan matematika di kelas mereka kepada ketiga temannya tersebut. Edo dan Dewi menanyakan kepada Bagas cara menghitung nilai rata-rata. Karena Bagas juga belum tau, ia mengajak teman-temannya untuk menemui Pak Joko, guru matematika mereka, menanyakan cara menghitung rata-rata.

Keempat siswa tadi menemui Pak Joko di ruang guru dan menanyakan cara menghitung rata-rata supaya mereka mengetahui posisi mereka. Pak Joko pun memberikan penjelasan. Untuk mengukur apakah mereka sudah paham, Pak Joko meminta mereka menghitung rata-rata dari nilai mereka berempat. Hal itu diikuti oleh pendengar dengan arahan narator.

Di Segmen 2, keempat siswa berdiskusi di dalam kelas untuk membahas cara menentukan rata-rata jika suatu data yang telah diketahui rata-rata dan banyak datanya, mendapat penambahan data. Narator memberikan beberapa soal kepada pendengar.

Di akhir program ditutup oleh narator dengan mengulang kembali kesimpulan dan memberikan kata penutup.

    Contoh Treatmen:

1.      Pembukaan oleh anouncer

2.      MUSIK TRANSISI

3.      SFX: Suara ramai siswa di jam istirahat sekolah.

4.      Dialog antara Edo dan Rina setelah menerima hasil ulangan Matematika. Kemudian Dewi datang dan ikut bergabung dalam dialog Edo dan Rina.

5.      Beberapa saat kemudian Bagas datang dan bergabung. Bagas menyebutkan rata-rata nilai ulangan matematika kelas mereka berdasarkan informasi yang diterima dari pak Joko, guru matematika mereka. Edo dan Dewi menanyakan kepada Bagas bagaimana cara menghitung rata-rata.

6.      Bagas yang juga belum tahu cara menghitung rata-rata, mengajak ketiga temannya untuk menemui Pak Joko, guru matematika mereka, untuk menanyakan bagaimanakan cara menghitung rata-rata.

7.      MUSIK TRANSISI

8.      BG: suasana ramai anak sekolah di jam istirahat

9.      SFX: pintu diketok

      .......... dan seterusnya.

  • Tentukan pemeran/pelaku (announcer =pembuka acara , narrator, guru radio=tokoh yang bertugas menyampaikan pesan utama, tokoh utama dan tokoh pembantu) usahakan jangan terlalu banyak, memilih nama yg pendek dan jelas gendernya, netral rasialnya, gampang disapa
  • Konsultasikan

Langkah selanjutnya adalah penulisan naskahnya. Kita sudah punya sinopsis dan treatmennya. Kita tinggal menuangkannya dalam bentuk naskah jadi. Contoh naskah:

RATA – RATA NILAI ULANGANKU

 

Tema                : Pengolahan Data

Subtema           : Rata – rata

Waktu              : 25 menit (SEGMEN 1)

 

1

MUSIK

:

FADE IN – UP – DOWN – UNDER

2.

ANNOUNCER

:

Program ini berjudul RATA-RATA NILAI ULANGANKU. Diperuntukkan bagi siswa kelas IX SMP dengan tujuan membantu siswa mempelajari materi pengolahan data dengan subtema menentukan rata-rata.  Selamat mengikuti.

SEGMEN 1 : MENENTUKAN RATA-RATA SUATU DATA TUNGGAL

3.   

MUSIK

:

(PEMBUKA) (DINAMIS) UP – DOWN – UNDER

4.   

NARATOR

:

Hai para siswa, bagaimana kabar kalian? Kali ini kita akan bersama-sama belajar menghitung rata–rata dari suatu data tunggal. Kamu pasti telah sering mendengar tentang rata–rata, misalnya rata–rata nilai rapor, rata–rata tinggi badan siswa satu kelasmu, rata-rata berat badan bayi di kelurahanmu, dan masih banyak lagi. Untuk kegiatan ini, kamu perlu mempersiapkan alat tulis berupa kertas dan pena.

Mari, kita ikuti kegiatan ini!

5.   

MUSIK

:

(TRANSISI) UP – DOWN – OUT

6.   

SFX

:

SUASANA RAMAI SISWA PADA JAM ISTIRAHAT SEKOLAH

7.   

EDO

:

Hai Rin, berapa nilai ulanganmu? Bagus?

8.   

RINA

:

Wah, nilaiku tidak bagus Do, tapi juga tidak begitu buruk. Yah, cukuplah. Kamu sendiri?

9.   

EDO

:

(GEMBIRA) Aku dapat nilai delapan koma lima (8,5). Aku senang mendapatkan nilai itu.

dan seterusnya.....

Nah, itu sedikit yang saya dapat dari Cisarua.. Mudah2an ada lanjutannya.. :) Tentang musik, tentang sound effect, dll...


Monday, March 24, 2008

Menuju Puncak...

Senin, 10 Maret 2008

Siang hari mendapat panggilan dari kepala seksi dan mendapat tawaran untuk mengikuti diklat penulisan naskah audio yang diselenggarakan oleh pustekkom. Aku bolak-balik menatap ke arah temanku yang masih tampak bersemangat mengikuti kegiatan itu. Sepertinya dia sudah punya gambaran apa yang akan dilakukan di sana sementara aku, jangankan punya gambaran, apa aku mau berangkat pun aku masih belum bisa memutuskan. Sambil bolak/balik membaca ulang undangan dari pustekkom, yang sebenarnya hanya caraku mengulur waktu untuk berpikir, bosku tadi memberikan alasan mengapa kami yang diminta mengikuti diklat itu. Kemudian ‘roh pengetahuan’ di dalam hatiku membujukku untuk lebih memperluas wawasan. Aku terbujuk dan ketakutan-ketakutan yang membuatku lama untuk mengatakan ‘ya’ perlahan-lahan runtuh, yang ada adalah semangat untuk belajar hal baru, sama sekali baru. Lalu dengan sedikit tersenyum aku bilang: “baiklah Bu” :) . Bu boss kemudian menghubungi pihak pustekkom untuk ‘mendaftarkan’ kami sebagai peserta. Pertemuan dengan bu boss pun berakhir. Temanku kembali ke ruangannya dan aku melanjutkan pekerjaanku.

Komunikasi dengan temanku dilanjutkan melalui media yang dinamakan chatting :) . Pembicaraan seputar keberangkatan, bahan yang akan dibawa, menjadi topik utama sore itu. Aku juga searching2 di internet untuk nyari jadwal kereta api. Akhirnya dapatlah jadwal Argo Dwipangga, Selasa, 11 Maret 08 pukul 20.53. Deal!

 

Selasa, 11 Maret 2008

Pagi hari ke perpustakaan nyari buku untuk bahan pembuatan naskah. Secara aku (kami) belum tau mau bikin naskah yang seperti apa, so kita pilih buku buanyak buangetz.. Pake edisi khusus pula minjemnya. Thanks mb Tituk dah dibolehin minjem buku sebanyak itu.

Selanjutnya giliran laptop. Berhubung laptop ruangan yang biasa dipakai masih dipakai juga oleh teman untuk kegiatan diklat di daerah maka aku bingung mencari pinjaman laptop. Kesana kemari tidak ada. Akhirnya Lab. Komputer berbaik hati dan mengasihani manusia yang tidak berdaya ini dengan meminjamiku laptop untuk melaksanakan tugas di puncak Bogor. Terimakasih Pak Fajar dan Pak Joko, jasamu tiada tara.. :)

Siangnya berencana pesan tiket ke stasiun Tugu. Waktu istirahat akan kami pakai untuk meluncur ke stasiun Tugu. Tapi ternyata Koperasi berbaik hati untuk membelikan kami tiket. Walhasil, kita tinggal di kantor, menyelesaikan pekerjaan yang harus selesai sebelum keberangkatan ke Bogor dan tiket datang 1 jam sebelum kami pulang kantor.

Pulang kerjapukul 16. Kami harus sudah berangkat pukul 20.00, padahal belum packing. Akhirnya pulang kantor dengan sedikit terburu-buru dan langsung mengemasi barang yang akan dibawa ke Bogor. Ini sudah, itu sudah. Wah, bagaimana dengan laptop ini. Tasku sudah cangklong pinggir. Kalau laptop juga dicangklong pinggir, alangkah repotnya aku. Tas punggungku terlalu ringkih untuk dipakai membawa laptop. Aku pun berinisiatif memakai tas temanku. Terimakasih mJ buat tas punggungnya.

Pukul 19.30 handphone berdering berkali-kali. Pasti aku disruh cepat-cepat berangkat. Kutelpon taksi dan aku pun melaju menuju kost temanku sesama penerima tugas. Dia masih minum susu. Aih... Dengan berselimut hujan di luar taksi, kami berangkat ke stasiun Tugu. Berulang kali menanyakan apakah ini sudah dibawa, apakah itu sudah dibawa, dan seterusnya. Sampailah akhirnya di stasiun Tugu. Masih ada beberapa waktu lagi sampai kereta datang. Perut kami lapar lantaran sepulang kantor tidak sempat makan. Wah, ada yang jual burger tuh. Kami pun membeli burger. Rasanya kok besar banget ya ni burger. Tapi alamak...habis pula aku. Laper...

Argo Dwipangga, kereta yang akan kami tumpangi sampai stasiun Jatinegara, sudah datang. Kereta 2 Kursi nomor 3A dan 3B. Kami menempati kursi sesuai yang tertera di tiket. Suasana dalam gerbong tampak lengang. Hanya beberapa kursi yang terisi. Mungkin karena bukan hari libur sehingga tidak banyak orang bepergian. Tempat duduk kami agak rusak, tidak bisa diatur kemiringannya. Kami pun melapor pada petugas dan petugas menyarankan kepada kami untuk pindah. Tapi karena kami malas untuk pindah lagi seandainya kursi yang kami pakai ternyata ada pemiliknya, kami memutuskan untuk tetap menempati kursi kami. Kereta melaju dalam kegelapan dan kami mencoba untuk menghalau gelap dengan tidur.  

Rabu, 12 Maret 2008

Kurang lebih pukul 05 kami tiba di stasiun Jatinegara. Kakak Omi sudah menunggu di depan pintu keluar. ”Tu yang bule” kata Omi saat menunjukkan di mana kakanya berdiri. Aku tersenyum. Memang terlihat lain dari orang-orang di sekitarnya :). Setelah berkenalan kami pun dibawa menuju rumah sang kakak. Dengan kecepatan tinggi kami menyusuri jalanan ibu kota. Rusak di sana-sini dan menurut sang kakak sudah terjadi 500 kasus kecelakaan akibat jalan berlubang di ibu kota selama tahun 2008. Wow..

Akhirnya kami sampai di rumah sang kakak. Istri dan anaknya sudah menunggu. Karena takut terlambat mereka langsung masuk mobil dan melaju sampai2 aku belum sempat permisi. Kakak dengan istri dan anak sulungnya pergi. Tinggallah di rumah dengan mbak dan si bungsu yang masih tidur. Kami pun melepas lelah dengan mandi. Selesai mandi si bungsu sudah bangun dan entah kenapa dia tampak tidak ceria. Aku beri dia roti, eh mau, tapi waktu disuruh mandi, eh..tidak mau..

Kami  kemudian  ikut si bungsu  ke sekolah.  Sebuah rumah yang difungsikan sebagai sekolah.  TK  dan  TB.  Menjawab  kebutuhan sebuah  perumahan  yang belum  dilengkapi  fasilitas  pendidikan  terutama  bagi  anak  usia  dini.  Hmm...bagus  juga .  Menarik.  Kreatif.


Yah..itulah perjalanan kami menuju puncak...

Mudah2an bisa posting edisi selanjutnya tentang kegiatan di puncak...

Tuesday, August 7, 2007

Sendratari Ramayana

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 2 Agustus, aku nganterin peserta diklat menyaksikan pagelaran sendratari ramayana di candi prambanan. Terus terang itu kali pertama aku menyaksikan sendratari ramayana. Bahkan kali pertama aku mengunjungi Candi Prambanan, hehehe...

Sendratari Ramayana berkisah tentang perjalanan Rama. Secara ringkas ceritanya begini.

Prabu Janaka dari Negeri Mantili mempunyai putri bernama Dewi Shinta. Untuk menentukan calon suami diadakanlah sayembara yang dimenangkan oleh Prabu Rama dari kerajaan Ayodya. Namun demikian Prabu Rahwana yang merupakan raja dari negara Alengka ingin pula memperistri Dewi Shinta karena dia merasa bahwa Dewi Shinta merupakan titisan Dewi Widowati yang selama ini dicari2nya.

Rama merupakan Putra Mahkota dari kerajaan Ayodya namun dia tidak mau menjadi raja Ayodya dan memilih hidup di hutan bersama adiknya Laksmana dan istrinya Dewi Shinta menjaga petapa2 dari gangguan raksasa. Di hutan Dandaka ia bertemu Sarpakenaka (adik perempuan Rahwana). Karena Sarpakenaka bernafsu dengan Rama dan Laksmana hidungnya terluka oleh pedang Laksmana. Kemudian ia mengadu kepada kakaknya Rahwana bahwa ia telah dianiaya. Rahwana menjadi marah dan mencari Rama di hutan.

Melihat Dewi Shinta timbul niat Rahwana untuk memiliki. Rahwana kemudian menyuruh pengikutnya yang bernama Marica untuk berubah menjadi kijang kencana dan menggoda Dewi Shinta. Shinta pun tergoda dan meminta Rama untuk menangkapnya. Rama pergi mengejar si kijang dan meminta Laksmana untuk menjaga Dewi Shinta. Namun setelah lama, Rama tidak kunjung datang. Shinta pun menyuruh Laksmana untuk mencari Rama. Laksmana meninggalkan Shinta dengan melingkari Shinta dengan lingkaran magis untuk menjaga keselamatan Shinta. Shinta tidak boleh keluar dari lingkaran tersebut. Pada saat itulah Rahwana menghampri Shinta untuk membawanya. Namun Rahwana tidak dapat menyentuh Shinta karena lingkaran magis yang dibuat Laksmana. Rahwana kemudian mencari cara. Ia merubah diri menjadi seorang brahmana tua dan meminta sedekah kepada Shinta. Karena kelembutan hatinya, Shinta keluar dari lingkaran magis untuk memberi sedekah pada brahmana tua tersebut. Pada saat itulah Rahwana berhasil menarik Shinta dan membawanya ke negara Alengka.

Di hutan sana, Rama berhasil menagkap kijang kencana. Namun ketika dipanah, kijang tersebut berubah menjadi raksasa Marica. Rama dan Marica pun bertarung. Namun akhirnya Marica terkalahkan oleh panah Rama. Laksmana menemukan Rama dan mengajaknya kembali menemui Shinta. Sementara itu ketika membawa Shinta, Rahwana bertemu dengan Jatayu yang menghalanginya membawa Shinta. Terjadilah pertarungan antara Rahwana dan Jatayu. Jatayu dilumpuhkan Rahwana. Dalam perjalanannya mencari Shinta, Rama dan Laksmana bertemu Jatayu yang terluka parah. Rama hendak membunuh Jatayu karena menyangka dialah yang menculik Shinta. Namun Laksmana mencegahnya. Jatayu kemudian menceritakan apa yang terjadi. Jatayu pun mati.

saat Jatayu menolong Shinta dari Rahwana

Dalam perjalanan berikutnya, Rama bertemu Hanoman yang diutus oleh Sugriwa untuk mencari satria yang dapat membantunya mengalahkan Subali. Berkat bantuan Rama, Sugriwa berhasil mengalahkan Subali. Sugriwa kemudian membatu Rama untuk mengambil kembali Dewi Shinta dari tangan Rahwana. Sugriwa mengutus Hanoman untuk menyelidiki Alengka. Setelah sampai di Alengka, Hanoman segera menemui Shinta yang sedang dijaga oleh Trijata. Hanoman menyampaikan bahwa dia adalah utusan Rama. Hanoman ingin mengetahui kekuatan kerajan ALengka maka dirusaklah taman kerajaan. Hanoman tertangkap oleh Indrajit anak Rahwana dan dibawa menghadap Rahwana. Karena marah Rahwana hendak membunuh Hanoman namun dicegah oleh Kumbakarna adiknya. Kumbakarna akhirnya diusir dari negara Alengka karena dianggap membangkang Rahwana. Hanoman dihukum dengan dibakar. Namun karena kesaktiannya, Hanoman tidak terbakar. Ia malah membakar kerajaan Alengka.

Hanoman menemui Shinta senagai utusan Rama

Hanoman hendak membakar kerajaan Alengka

Setelah itu Hanoman kembali kepada Rama untuk mengabarkan keadaan Alengka dan kekuatannya. Rama beserta pasukan kera membuat bendungan sebagai jalan menuju Alengka. Kemudian Rama mengutus Hanoman, Anggodo, Anila dan Jembawana untuk memimpin pasukan menyerang kerajaan Alengka. Akhirnya terjadilah perang antara pasukan Rama melawan balatentara Rahwana. Indrajit dan Kumbakarna tewas dalam peperangan tersebut. Rahwana akhirnya dikalahkan oleh Panah Rama dan dihimpit gunung Sumawan yang dibawa Hanoman.

Hanoman menghadap Rama melaporkan keadaan dan kekuatan Alengka

Rama dan pasukan kera membangun bendungan

Ah....

Akhirnya Rama dapat bertemu kembali dengan Shinta. Namun Rama meragukan kesucian Shinta. Shinta pun membuktikan kesuciannya dengan membakar diri. Namun karena kesuciannnya Dewi Shinta tidak terbakar. Akhirnya Rama dan Shinta kembali bersama.......

Rama dan Shinta kembali bersama

Begitulah kisah Ramayana yang disajikan secara apik dengan tarian yang gemulai dan rancak dari para penari. Di akhir pertunjukan penonton boleh berfoto bersama para penari.

 

Berfoto bersama Hanoman dan pasukan kera

Berfoto bersama Rama

Tuesday, July 31, 2007

yang besar yang berkoar...

Beberapa hari yang lalu aku sempat memberi komentar pada postingan teman tentang “Jalan Raya Punya Siapa?”. Temanku agak jengkel waktu disuruh berhenti tanpa sebab yang jelas selama beberapa menit. Ternyata beberapa saat kemudian ada iring2an lewat. Aku sempat bilang: “sabar aja bro..”. Wuih, gayanya sok menasehati. Giliran aku yang ngalami, dongkol juga ya.

untitled.jpg

Kemarin Minggu waktu balik dari rumah ke Jogja ada kejadian yang bikin jengkel. Aku berangkat dari Purworejo jam 14 karena aku ada tugas di Jogja jam 16. Motor melaju dengan kecepatan 80-90 km/jam, lumayan cepat untuk ukuranku. Sampai di daerah Wates beberapa motor besar tiba2 menyalibku dan melaju dengan kecepatan sedang, beriringa2an di ruas kanan. Aku agak repot juga karena aku memburu waktu sementara iring2an itu berjalan tidak cepat tapi juga tidak lambat. Akhirnya aku salib lagi mereka, bukan mau menunjukkan apa-apa, cuma karena aku memburu waktu dan mereka tidak juga menambah kecepatannya. Eh, salah satu dari mereka memburuku dan memintaku minggir. Aku dan beberapa kendaraan lain minggir. Ternyata mereka juga menyuruh kendaraan dari lawan arah minggir. Bis pun ikut berhenti lho. Wah2… Dan taukah Anda, ternyata mereka cuma mau nyebrang ke bengkel kecil di sebrang jalan buat ngisi angin. Grrrrhhhh….geram juga aku. Siapa sih mereka?? Panguasa jalan kah?? Yang punya jalankah?? Atau yang bayar pajak jalan?? Sampai2 semua harus ngalah. Sempat pengen ngumpat, untung buru-buru ingat kalo waktuku mepet. Akhirnya sambil nyanyi2 (mengendorkan emosi) kupacu sepeda motorku. Di jalan senyum2 sendiri, ingat saat kasih comment ke temenku, ternyata waktu aku sendiri yang ngalami aku dongkol juga. Ternyata memang menyebalkan dapat perlakuan diskriminatif hanya karena hal sepele.