Monday, June 21, 2010

Hujan Bulan Juni

 

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

.:Sapardi Djoko Damono:.

Tuesday, February 9, 2010

sajak sepi

aku meragu dalam gelisah
pada rangkaian cerita dan penjelasan
inikah kenyataan?
ataukah luapan kekecewaan
yang terurai menjadi sajak benci
dikirim angin pada malam-malam sepi?

senyummu tawar
datar tanpa makna yang bisa kuungkap
selalu begitu
mengabur hingga kulupa kupunya tanya
mengendap lalu terlupa

diam telah menjadi pilihan aman
ketika jawaban adalah sebuah goresan
yang menyayat batin
dan merobek jiwa

tapi bilakah kita akan keluar
bila hati terus bertanya
tanpa pernah tau
adakah jawab di depan sana

sepi telah lebih dulu menggayuti hati
sepiku pada awalnya
sepi yang kumiliki sebelumnya
hingga saat kau ada
sepi ini terus meraja

pergilah...
biar aku sendiri yang mengakhiri ini..



[9 Februari 2010, 00:58, kost mijil 35]

Wednesday, February 3, 2010

sajak makan

di kanan di kiri
laki-laki duduk dengan perempuan..
toleh kanan, beberapa pasang muda mudi
sepertinya anak kuliahan..
tengok ke kiri, sama saja lelaki-lelaki dan perempuannya
apa harus selalu begitu,
laki-laki datang dengan perempuan?
pun perempuan, tak ada yang datang sendirian..

perempuan memang pasangannya laki-laki..

tengok ke diri sendiri,
sendirian..
ah.. tidak wajar..
ah.. tidak sesuai kebiasaan
ah.. tidak seperti yang lainnya..
ah...neh sekali..

ada yang senyum-senyum
ada yang memandang heran

haha..
ini hanya soal makan,
menyuapkan nasi & lauk pauknya ke mulut,
lalu ditelan
sendiri atau dengan pasangan
tetap saja disebut: makan!


[3 Februari 2010, 21:14, warung makan lesehan]

sajak malam

langit tertidur,
angin berhembus pelan,
tak berani mengusik
takut daun-daun berisik

lengang..
senyap..
sunyi..
hening..

tugasmu Krik,
menyumbangkan alunan musik,
jadi nina bobo mata-mata yang masih mendelik..

Jangkrik

[3 Februari 2010, 01.32]

Monday, January 25, 2010

mengingatnya...


23.55
Mataku belum juga ingin mengatup. Secangkir kopi sore tadi telah meracuni otakku dan memerintahkan padanya untuk membuatku tetap terjaga. Ah..aku benci insomnia. Imajiku akan membawaku ke mana pun dia mau. Kadang ke lorong masa depan tempat ditumpuknya buku-buku harapan, di mana buku itu masih menyediakan halaman putih untuk kutulisi khayalan & impian masa depan. -jika begini,aku masih mampu-. Namun kadang dia membawaku ke lorong masa lalu tempat dipajangnya semua kejadian yang pernah terjadi dalam hidupku, tak peduli indah atau buruk. -yang ini lebih sering aku tdk mampu-.

00.07
Aku ingin segera terlelap. Kenangan masa lalu yang berloncatan seolah menaburkan lagi butir2 garam di luka batin yang belum lagi kering. Perih. Masih kurasakan perih itu. Masih sakit meski mungkin tak sama rasanya. Lalu pertanyaan2 akan muncul mengikuti rasa itu. Yang paling sering muncul adalah: 'sampai kapan?'.

00.13
Aku tidak pernah ingin mengingatnya. Kita tidak ingin. Tapi dia datang sendiri tanpa permisi, menggoreskan lagi luka di hati. Perihku...perihmu..perih kita...

00.18
Mari tidurlah. Lupakan sejenak beban itu. Bila mungkin, lupakan selamanya....

---
240110-250110

Sunday, October 18, 2009

Menjelang..

“Sudah siap Tt?” tanya ibu sambil merapihkan riasanku. Tak taukah ibu, jantungku berdebar tak menentu?? Dan pertanyaan ibu semakin memacu pompa jantungku. Huff..

“Belum. Tunggulah sebentar lagi.” jawabku sambil menghela nafas menata hatiku.
“Apakah semua sudah siap?” tanyaku. Hanya untuk mengulur waktu tentunya.

“Sudah. Semua sudah siap. Tinggal menunggumu.”

Ahh…aku menatap seseorang di depanku yang juga menatapku lekat2. Mulai bergumam padanya. Sungguh aku belum siap menghadapi ini semua. Aku belum siap menjalani ini. Berulang kali aku bilang: aku tidak mau! Berulang kali aku memohon: jangan dulu! Tapi kenapa tak ada toleransi??

Aku masih ingin bermain. Aku masih ingin berkarya. Belum banyak yang kuhasilkan, belum ada yang bisa kubanggakan. Nanti, setelah aku menghasilkan sesuatu, aku baru bersedia memasuki hidup baru itu. Tapi nanti, belum sekarang, aku belum mau…

Lihatlah hidupku ke belakang. Tentu saja aku bersyukur, Tuhan. Banyak sekali berkat2 yang Kau limpahkan dan tak mampu aku menghitungnya. Keluarga, bersyukur Kau berikan padaku keluarga baik2 yang mendidikku dengan baik, dengan mengedepankan mengasihi, memaafkan, menolong, rendah hati. Keluarga yang rukun, saling menopang, saling menguatkan. Ya, Tuhan, aku bersyukur. Juga pekerjaan, teman-teman, lingkungan, dan masih banyak lagi. Tak ada nikmatMU yang kuingkari ya Allah. Sungguh hamba bersyukur.

“Gimana Tt? Sudah siap?” ibu kembali datang dan menanyakan hal yang sama.

“Belum Bu. Tunggulah sebentar lagi.”

Aku ingat ada banyak hal yang belum kuselesaikan, banyak masalah yang masih mengambang. Aku ingin, saat aku memasuki hidup baru ini, semua masalah itu telah terselesaikan. Tapi ternyata belum. Dan lagi2 aku tidak diberi toleransi untuk mengatakan: nanti dulu. Harus. Karna waktu tak mau menunggu.

Debar jantungku masih kencang. Mungkin aku hanya terlalu khawatir akan apa yang kuhadapi nanti. Semestinya itu tidak perlu. Bukankah Tuhan telah memilihkan jalan terbaik untukmu? Bukankah Tuhan selalu menyertaimu? Kamu hanya perlu menyerahkan hidupmu kepadaNYA Tt. Serahkan apa yang terjadi nanti dalam kuasaNYA. Dia mempunyai rencana indah bagi umatnya.

Tapi aku belum menghasilkan apa2!! teriakku. Hey,bukankah kamu tidak bisa menghitung berkat2 yang Tuhan limpahkan padamu? Kamu telah melakukannya bersama Dia, dan itulah hasilnya. Kamu sudah melakukan bagianmu,dan Dia telah menyelesaikannya.

Ah,kupikir perempuan di depanku ini terlalu banyak bicara. Tapi semua kata2nya benar kurasa. Perempuan dalam cermin, bayangan diriku sendiri.

Ibu kembali datang. Kali ini sepertinya dia enggan bertanya. Hanya tersenyum padaku, mengulurkan tangan kanannya, dan mengangguk. Aku pun bangun dan berkata:

“Aku siap.”

Ibu menuntunku memasuki sebuah pintu. Di sana ada sebuah tangga menuju ke surga. Entah ada berapa anak tangga, tidak seorang pun tau. Aku pun menaiki satu tingkat. Anak tangga kedua puluh enam.

.

.

dedicated for: me :)

Friday, September 11, 2009

......untukMU..........

Aku berbaring berselimut angin malam
Beratapkan langit yang terhampar kelam
Bulan kini telah purnama
bersinar di balik carang pohon srikaya yang meranggas daunnya..
Indahnya malam ini ya TUHAN
Sekaliannya KAU ciptakan dengan sempurna
Kukagum akanMU ya ALLAH
Kumazmurkan pujian bagiMU
Kuagungkan namaMU
TUHAN SEMESTA ALAM..

.:tt:
7.9.9